Home > Aqidah > Meniti Hidayah

Meniti Hidayah

Tak diragukan bahwa setiap manusia pasti menghendaki kebahagiaan di dalam hidupnya. Kebahagiaan merupakan sesuatu yang ingin dicapai dalam hidup. Sungguh bahwa kebahagiaan hidup sejati adalah diridloi Allah SWT dan menjadi

kekasih-Nya.

Seorang mu’min akan selalu memohon kebaikan di dunia dan akhiratnya. Dia akan menjadikan kehidupannya di dunia sebagai jalan menuju kebaikan atau kebahagiaan di akhirat kelak. Maka kebaikan di dunia adalah sarana yang dapat mengantarkan kepada kebaikan di akhirat.

Bahwa kebaikan di dunia adalah hidup bahagia berlimpah harta, memiliki kekuasaan, dan berfoya-foya adalah satu bentuk pengurangan atau bahkan penghilangan hakikat makna kebaikan di dunia. Anggapan seperti ini sungguhlah jauh dari hati seorang mu’min yang sejati.

Al-Hasan ra berkata bahwa kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah, dan kebaikan di akhirat adalah surga. Dari perkataan beliau mengisyaratkan bahwa kebaikan di dunia adalah jalan menuju kebaikan di akhirat karena sungguh tiada keraguan bahwa ilmu dan ibadah karena Allah SWT adalah satu jalan menuju surga.

Malu bertanya sesat di jalan. Kurang lebihnya terdapat mutiara kata demikian. Allah telah menjelaskan jalan yang harus ditempuh untuk menuju kebaikan di akhirat melalui risalah Nabi SAAW (Shollallahu ‘alaihi wa alihi wasallam). Tiada seseorang yang menelusuri jalan ini dengan benar akan mengalami ketersesatan yang sampai tidak dapat mengantarkannya kepada tujuan.

Solusi dari ketersesatan adalah bertanya, sebagaimana mutiara kata di atas. Bertanya adalah kunci dari ilmu. Dari sini, dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu adalah solusi dari ketersesatan. Seseorang yang berilmu tidak akan mengalami ketersesatan dalam hidupnya.

Ketika seseorang dalam keadaan taat kepada Allah SWT maka dia sedang dalam jalan menuju surga dan seseorang yang sedang bermaksiat kepada Allah SWT maka dia berada dalam ketersesatan dalam perjalanan menuju surga.

Wallahu Al-Muwaffiq. Allah adalah dzat yang memberikan taufik. Taufik adalah wujud pertolongan Allah SWT atas hamba-Nya sehingga dia berada dalam ketaatan kepada-Nya. Demikian sebagaimana seorang kyai mengartikan taufik sebagai tumibané tho’at ing kawula. Seorang yang mendapatkan taufik berarti telah berada dalam jalan menuju kebaikan di akhirat.

Taufik selalu beriringan dengan adanya hidayah. Hidayah adalah pemberian petunjuk akan jalan menuju Allah SWT. Seseorang yang mendapatkan hidayah berarti telah mengetahui jalan yang harus ditempuhnya untuk sampai kepada Allah SWT. Kemudian, seseorang yang telah menapaki jalan tersebut berarti telah mendapatkan taufik dari Allah SWT.

Awal dari turunnya hidayah adalah dengan adanya ilmu. Hidayah adalah buah dari ilmu. Bahkan seorang yang bertambah ilmu dan tiada bertambah hidayah maka dia hanya akan semakin jauh dari Allah. Dalam ilmu terdapat permulaan (bidayah) dan akhir (nihayah), dan terdapat lahir dan batin. Tidak akan sampai ke akhir kecuali dengan adanya permulaan dan tidak akan sampai kepada yang bathin kecuali menyelami yang lahir lebih dahulu.

Bermula dari ilmu yang lahir, lalu batin, seseorang akan memperoleh hidayah, lalu taufik, hingga selanjutnya akan berakhir dengan pertemuan dengan Rabb di Surga. Itulah jalan kebahagiaan.

Seseorang yang tak berilmu (bodoh) tentang syahadat, sholat, zakat, puasa, dan ibadah haji tidak akan pernah sampai kepada tujuan. Seorang yang tak berilmu dan tak tahu dirinya tak berilmu tidak akan tahu apakah dirinya tersesat ataukah tidak di dalam perjalanannya.

Begitu juga sama halnya dengan orang yang tak berilmu dan dia tahu akan keadaannya bahwa dia tak berilmu, kemudian dia tak mau mengubah keadaannya dengan cara mencari ilmu. Dia akan tersesat, tidak sampai ke tujuan. Dia sama halnya dengan orang yang malu untuk bertanya.
Oleh sebab itu, tuntutan untuk mencari ilmu adalah bagi setiap muslim, diawali dengan memahami dua kalimat syahadat, kemudian berkaitan ubudiyyah lahiriyyah dan muamalah, misalkan ilmu tentang tata cara berwudlu, sholat, puasa, hukum jual beli dan bentuk ibadah lainnya, kemudian meningkat kepada ilmu bathin. Inilah permulaan untuk sampai kepada kebaikan dunia dan akhirat yang sejati. Orang yang baik di dunia dan akhirat adalah orang yang diirahmati oleh Allah SWT.

  1. kangiem
    April 16, 2009 at 12:33 PM

    kang ir..
    sebenare tujuan kehidupan ini apa sich?terus apakah tujuan semua muslim itu bermuara pada pada dunia dan akhirat?bagaimana kalo cuma dunia ato akhirat tok?apakah dia tidak bahagia?..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: