Home > Opini Santri > Pesantren dalam 4 paragraf

Pesantren dalam 4 paragraf

December 20, 2008 Leave a comment Go to comments

Pesantren yang sering kali disebut dengan pondok merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Ia lahir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di negeri ini terutama dalam kajian keagamaan. Pondok yang dimaksud bukanlah asal-asalan pondok, akan tetapi suatu lembaga yang di dalamnya ada seorang kyai (pengasuh), santri, asrama, kitab-kitab islami, tata tertib dan organisasi. Peran keenam hal tersebut sangatlah berkaitan erat, sebagai contoh misalnya ada seorang kyai, akan tetapi tidak memiliki santri maka satu unsur gugur sehingga tempat dimana kyai itu tinggal bukanlah sebuah pondok.

            Pengertian inilah yang masyhur digunakan di Indonesia. Pesantren zaman sekarang sudah mengalami kemajuan yang sangat padat, baik dipandang dari segi kuantitas maupun tingkat kepercayan masyarakat terhadap pondok pesantren. terdapat satu pondok pesantren yang ada di Yogyakarta, pada tahun 2000 memiliki santri sekitar sepuluh orang, namun delapan tahun kemudian telah bertambah menjadi dua ratus orang. Peningkatan yang cukup signifikan inilah yang saat ini diharapkan, karena dengan kepercayaan masyarakat yang begitu besar tentunya suatu saat nanti diharapkan lahir para generasi bangsa yang menguasai iptek dan memiliki dasar pesantren. Munculnya pemimpin yang adil dan menjadi teladan bagi setiap orang, meskipun zaman akhir ini sudah sangat sulit mencari para pempimpin yang bisa bertindak seperti itu.

            Kehidupan di pesantren sering diistilahkan dengan penjara suci. Seorang santri yang mencari ilmu di tempat ini ditempa dengan berbagai cobaan dan rintangan. Jiwa seorang santri benar-benar diolah dan dikontrol sedemikian rupa dalam menghadapi problematika kehidupan selama di pesantren. Untuk menghadapinya, tidaklah semudah duduk saat marah atau tidak pergi ke suatu tempat karena kehabisan bekal (uang), akan tetapi dengan pengekangan hawa nafsu dan ikhtiar. Diantara upaya yang sering dilakukan para santri di beberapa pondok pesantren yaitu 1) berpuasa sunah (puasa senin kamis) 2) shalat lail (tahajud) 3) shalat dhuha (untuk menarik rezeki), ataupun 4) ziarah kubur (untuk mengingat mati).

Di samping itu, ada sebagian santri yang mengamalkan do’a-do’a tertentu sehabis shalat fardhu atau memperbanyak membaca al-Qur’an untuk menambah ingatan hafalannya, mencerdaskan otak dan memfasihkan dalam membaca ayat suci al-Qur’an. Semua itu hanyalah sebagai ikhtiar (usaha) dalam rangka menunjang kesuksesan dalam mencari ilmu, keberkahan hidup dan berlatih menjadi orang yang teguh, tahan banting dan lain sebagainya.

  1. December 24, 2008 at 11:52 AM

    BERJUANGLAH TERUS WAHAI SAUDARAKU, SEIMAN DAN SEAGAMA

  2. January 12, 2009 at 12:49 AM

    sip lah

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: