Home > Akhbar/News > Roadshow KCB (Ketika Cinta Bertasbih)

Roadshow KCB (Ketika Cinta Bertasbih)

artisAula LQ (24/4/09) Pada Jumat sore, sekitar 20 orang mengadakan silaturahim ke pesantren LQ, mereka adalah rombongan jama’ah (artis crew) film KCB (Ketika Cinta Bertasbih). Salah

Meskipun acara ini boleh dikatakan cukup mendadak, akan tetapi hal itu tidaklah menyurutkan semangat pengurus dalam mengatur jalannya acara sore itu. Sekitar jam 16.00 lewat acara baru dimulai dengan terlebih dahulu disampaikan pemaparan singkat hal ihwal KCB. Bapak Aziz dan Beliau K.H Najib Salimi selaku pengasuh ponpes, keduanya saling memberikan komentar yang sangat luar biasa. Diantaranya yaitu pengalaman dalam proses pembuatan film dimulai dari audisi sampai mentoring saat shooting film oleh Kang Abik. Pengawasan dalam pembuatan film yang inten diharapkan akan sesuai dengan yang diharapkan. Seorang artis mau tidak mau harus memerankan sesuai dengan karakter tokoh dalam Novel KCB. Hal ini tidak bedanya dengan seorang santri pondok, dia juga memainkan perannya sebagai santri dan juga melakukan perubahan-perubahan akan tetapi melalui proses yang panjang. Sebagaimana disampaikan pengasuh, santri mungkin saja bisa melakukan perubahan yang sangat cepat seperti halnya artis film apabila dituntut dengan berbagai peran dan tentunya dorongan financial.

Di tengah-tengah acara, salah seorang artis dari Jogja memperkenalkan teman-temannya dari mulai nama asli sampai peran apa yang dilakonkan dalam film tersebut. Memperhatikan wajah tampan dan ayu para artis KCB ternyata tidak jauh beda dengan para santri Luqmaniyyah, mereka juga manusia biasa yang doyan makan makanan seperti halnya santri. Hanya saja saat itu para santri belum dimake-up sedemikian rupa. Namun air wudu’lah yang membuat wajah seorang santri akan bercahaya terang di hari berbangkit kelak.

K.H Najib Salimi menyatakan:” hal mendasar yang membedakan antara santri dengan artis yaitu antara terpilih dan tidak”. Beliau mengutarakan hal ini secara terbuka dihadapan semua audience dengan disorot oleh kameraman TV-One. ”Kalau artis itu dipilih melalui audisi yang sangat ketat sedangkan santri itu tanpa pilihan ini dan itu, mereka datang sendiri ke pondok dan mendaftar sebagai santri.” Tutur beliau. Semua warga di aula pun tertawa kompak. Satu hal yang menarik adalah bahwasanya film ini digarap dalam rangka dakwah, sebagai seorang sarjana bukanlah mencari pekerjaan akan tetapi menciptakan pekerjaan itu sendiri. Maaf saja bukan misi poligami yang dibawa sebagaimana dalam film AAC (Ayat-Ayat Cinta) tahun-tahun sebelumnya.

Satu pengalaman penuh hikmah dari seorang artis cantik bernama Oki (sebagai Ana), sejak kecil ia memang suka ngomong sendiri di depan cermin, berakting dan menjadi model. Beberapa kali ia ikut fashion show dari mulai aurat terbuka sana sini, sampai berjilbab seperti sekarang ini ternyata Allah belum meluluskannya. Sampai ia ikut audisi untuk film ini, Allah baru meluluskannya terbukti ia mampu menjalaninya sampai shooting selesai dan tidak tanggung-tanggung sebagai tokoh utama. Lebih lengkapnya bisa membaca novelnya, Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy.

Sekarang ia telah berubah dengan jilbab yang senantiasa menjulur lebar di tubuhnya. Hal ini ternyata tidak menghalangi ia dalam beraktivitas sebagai model dan artis ibukota. Benar sekali apa yang dikatakan olehnya, intinya bahwa maknai kegagalan itu dengan sebuah kesuksesan awal untuk meraih kesuksesan yang lebih besar lagi. Terus berusaha…dan berusaha lagi.

Acara sore tidak hanya monoton, mendengarkan dan melihat artis-artis KCB melainkan ada sesi tanya jawab dengan artis. Dari tanggapan dan jawaban atas pertanyaan santri—tidaklah mengecewakan audience karena memang mereka sudah terlatih dengan hal semacam itu.

Pada akhir acara, mereka menghadiahkan sebuah cinderamata berupa tiga novel KCB edisi terbaru, dua buah kaos KCB dan beberapa kosmetik. Akhirnya tepat pada pukul 17.30, acara ditutup dengan pengambilan gambar (foto-foto bareng) antara santri dengan artis. Bisa dibayangkan betapa senangnya hati mereka, mudah-muahan ini menjadi awal yang baik bagi pesantren khususnya ponpes Al-Luqmaniyyah. Sekian dan Terima Kasih

  1. sriguno
    May 31, 2009 at 10:46 AM

    walah, di pesantren memang banyak azam dan ana yah…
    ada juga azam yang belum kesampaian…
    salut wat KCB,

  2. Wan Harya
    June 17, 2009 at 12:12 PM

    Kita juga bisa jadi artis lho….kan dunia ini panggung sandiwara….be ur self.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: