Home > Santai > Salah Tompo

Salah Tompo

Kejadian ini terjadi sesaat setelah mujahadahan rutin malam selasa asuhan abah Najib selesai, tepatnya pada tanggal 13 April 2009. Pada saat itu ada tiga santri, tepatnya dari kamar 3 yang mendapat giliran piket jaga, yang sudah menjadi tradisi di PPLQ, karena kegiatan mujahadah sudah selesai, sekitar jam 11:30 mereka memarkirkan motor yang ada di luar masuk ke dalam. Mereka bertiga begitu semangat memasukkan motor, karena mereka berencana setelah selesai tugas akan segera memesan mie di kantien LQ. Pada saat mereka dalam tugas di samping masjid LQ, setelah mereka penuhi area samping masjid itu dengan sebagian motor, tiba-tiba KH Najib Salimi yang akrab di panggil abah oleh para santrinya itu memanggil salah satu ketiga santri tersebut. Santri tersebut kaget ketika beliau memanggil namanya – biasanya beliau memanggil santri dengan panggilan cung -, dengan terburu-buru santri itu menuju ke abah sambil menundukkan kepala sebagai bentuk rasa hormat.

Dengan sedikit menundukkan kepala santri itu berkata, ”nopo bah ?”. Beliau berkata, “gorengan ” . Biasa, santri mempunyai prinsip sami`na wa atho`na pada kiainya, tanpa pikir panjang santri itu langsung me-ngamini permintaan abah, yang sebenarnya santri itu belum paham apa yang di katakan beliau dan itu di perkuat karena jarak santri itu yang agak jauh dengan abah karena ada motor2. Santri itu sebenarnya mau tanya lagi pada abah tapi santri itu mempunyai anggapan bahwa santri nggak boleh banyak tanya pada kiainya apabila di perintah.

Pada saat itu di depan teras masjid LQ bukan hanya beliau saja, tapi juga jama`ah yang biasa berbincang-bincang dengan pak kiai setelah acara mujahadah selesai yang jumlahnya ada 11 orang termasuk abah sendiri. Dengan dalih orangnya banyak, Santri kelahiran Purwodadi itu beranggapan bahwa pak kiai minta di buatin mie. Langsung santri itu pergi ke kantien LQ asuhan kang rijal (pak ndut) dan mbah Muis. Santri itu bilang pada penjaga kantien itu bahwa abah minta dibuatkan mie 11 mangkok, dengan nada kaget pak ndut yang akrab di panggil oleh santri2 itu berkata”mie sewelas”. Santri itu menjawab ya ! yang sudah yakin bahwa itu benar perintah abah

Setelah santri itu keluar dari kantien dengan perasaan lega karena merasa sudah bisa melaksanakan perintah abah. Ketiga santri tadi kembali meneruskan parkir motor, karena sudah penuh ketiga santri tersebut memutuskan untuk berhenti mindahin montor dan istirahat di angkruk. Santri itu bercanda dengan teman jaganya yang semuanya nggak tahu tentang perintah abah ini kecuali santri itu sendiri.

Setelah bebarapa saat santri yang di suruh abah tadi ke kantien untuk mastiin kalau mie-nya sudah di buat, setelah beberapa menit santri itu melihat dari angkruk (tempat jaga malam) orang yang dulunya pernah menjadi abdi dalem (kang muis) membawa nampan berisi mie, santri itu berdiri di atas angkruk, karena ingin tahu gimana reaksinya abah. Dengan penuh tanda tanya di hatinya “apa benar abah mintanya mie”

Di tengah jama`ah terdengar semua pada tertawa setelah abah mengatakan kalau beliau minta gorengan bukan mie. Santri itu tambah gundah, setelah kang muis keluar dia mengangkat tangan dengan kepalan yang ditujukan pada santri itu. Seketika santri itu langsung lemas dan terdiam sekejap dengan hatinya yang berkata ”benar…,…kalau aku baru saja misresponding dengan pak kiai “

Santri yang tadinya mau ke kantin bareng2 sama temen, nggak jadi kesana, karena santri itu takut kalau mbah muis sama pak ndut memarahinya atau paling nggak nyalahin santri itu. Akhirnya untuk memenuhi keinginan ketiga santri tersebut yang sudah di rencanakan dari tadidan salah satu dari ketiga santri sudah marasa kencot (lapar) maka santri itu menyuruh salah satu dari temannya untuk memesan mie dan dibawa ke angkruk .

Huh, kita harus berani bertanya kembali apabila kita benar2 tidak paham apa perintah beliau, yang sebenarnya menurut ta`lim kita(santri) nggak boleh banyak tnya pada kiai/ustadz apabila di suruh, tapi kalau persoalannya seperti di atas kita wajib bertanya ulang demi senangnya dan kelegaan pak kiai..

  1. sri
    June 25, 2009 at 2:33 PM

    piye tho gx inget pepatah mengatakan malu bertanya sesat dijalan tho mas
    bhasa indonasia ne drt berapa mas…he…he..
    just kid mas

    besok lge tanya ja mas nek gax jelas daripada salah oke..
    paling abah cma doko sekedik…
    tpi yo wes biene yo….

    Admin :
    Iya bener.. Pepatah mengatakan kayak gitu..
    ya biar jadi pelajaran aja …

  2. maylulqolby
    July 3, 2009 at 12:36 PM

    wah….ketinggalan Zaman Nie, Tapi lucu…Buangt kang, hahaha….

  3. diana
    July 3, 2009 at 1:28 PM

    Wuahahaha…….lucu…lucu

  4. nisa7
    July 6, 2009 at 3:28 PM

    ha…..ha……
    jangan2 pengalaman pribadi y…..
    malu bertnya rugi nang kang muis luch kang…..

  5. may
    September 7, 2009 at 5:08 PM

    ana-ana bae kang……….!!! he…he….he…..

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: