Home > Uncategorized > Santri di Era Globalisasi

Santri di Era Globalisasi

ulama & ilmuwanIstilah santri begitu populer di telinga masyarakat. Hal ini karena beberapa faktor. Pertama, santri dikenal sebagai bagian kecil dari komunitas masyarakat yang teguh mempertahankan tradisi ulama klasik dalam amal maupun pemikiran. Peran santri dalam bidang ini tampak dari upaya mereka untuk senantiasa mengkaji kitab-kitab klasik dengan tekun. Kitab kuning menjadi makanan sehari-hari dengan berbagai metode yang digunakan untuk memudahkan pemahaman. Selain itu, santri diketahui mempunyai komitmen tinggi untuk mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam, bahkan dalam amal yang begitu teguh. Mereka menjalankan tirakat atau riyadlah sebagai bentuk penyucian jiwa dari dosa dan kotoran yang menutupi bashirah. Tak heran, masyarakat menganggap mereka mempunyai kemampuan lebih dibanding dengan kelompok lain.

Kedua, santri dikenal menjunjungkan tinggi kekeluargaan dan kebersamaan. Di saat masyarakat terkotakkan dalam beberapa tingkat sosial, justru mereka bisa mengambil contoh terbaik tentang peleburan itu di dalam santri. Dengan kekeluargaan, bentuk penghargaan kepada pihak-pihak yang seharusnya ditempatkan pada posisi mulya dihargai. Penghargaan itu tampak dari sikap-sikap kepada yang lebih tua, atau dari yang tua kepada yang muda. Layaknya keluarga, masing-masing merasakan sebagai bagian yang lain. Dengan begitu, tertata regenerasi yang tak pernah putus yang terpelihara dari masa ke masa dalam perjalanan pencarian ilmu itu.

Kekeluargaan bukan berarti sebuah sekat sosial dalam pesantren, justru di situ kebersamaan semakin merekat. Kebersamaan yang tampak di santri adalah dalam amal, bahkan hal privasi. Barangkali, santri begitu semangat mewarisi suri tauladan Nabi dalam keluarga sekaligus. Melalui kebersamaan, beberapa kegiatan yang kelihatan sepele direspon oleh mereka secara serempak untuk tolong-menolong saling memberikan yang terbaik antara masing-masing. Mujahadah, yang sebenarnya lebih banyak berada di wilayah hubungan personal dengan Tuhannya, dilaksanakan secara serempak. Kebersamaan dan kekeluargaan tersebut tercium oleh masyarakat sekaligus terejawentahkan dengan mereka dalam aktifitas sosial massif. Tak heran, bila masyarakat mengenal santri sebagai sosok yang luwes bergaul dengan mereka sekaligus ringan tangan membantu mereka.

Ketiga, santri dikenal arif dalam dakwah dengan mengambil kearifan lokal sebagai media bukan sebagai “hantu” yang harus dikafirkan dan dihanguskan. Kita bisa menyaksikan betapa Kyai-kyai zaman dahulu hingga sekarang amat bijak mengambil sikap terhadap masyarakat sekitar pesantren untuk diajak secara bersama-sama membuat kesejukan dunia dan mengesakan Tuhan Maha Satu semata. Secara psikologis, dakwah ini mudah diterima, karena lebih mengedepankan substansi ketimbang urusan formalitas yang sama sekali tidak membumi. Maka, dakwah model ini sebenarnya merupakan metode saja yang tidak menodai ajaran Islam. Kesuksesan Kyai-kyai dalam menggaet masyarakat lebih humanis dan religius dapat kita jadikan contoh dan referensi.

Tiga bagian di atas adalah corak yang paling tampak tentang santri. Membaca secara internal, santri tentu tidak boleh bangga dengan semata mempunyai identitas-identitas di atas. Melainkan, santri harus mempunyai komitmen tinggi untuk intens mengembangkan ilmu pengetahuan agama yang merupakan modal besar dalam menjawab permasalahan masyarakat tempat tinggalnya kelak. Pengembangan ilmu pengetahuan agama dapat digali dari sumber otentiknya melalui jalur riwayat yang tidak pernah putus sampai kita. Kitab-kitab ulama klasik diwariskan secara muttashil kepada santri. Dalam keyakinan santri, kitab-kitab tersebut – yang terkenal dengan kitab kuning – merupakan bentuk interpretasi terhadap al-Qur’an dan hadis. Tentang dua kitab tersebut, semua sepakat bahwa pedoman dunia akhirat terletak di sana. Dengan demikian, memahami kitab kuning merupakan bentuk pemahaman terhadap al-Qur’an dan hadis.

Dari berbagai dimensi, kitab kuning seolah memanjakan kita untuk menganggap cukup mendalaminya dan berhenti di situ saja. Kitab kuning membahas seluruh dimensi kehidupan, dunia dan akhirat. Padahal, santri harus bijak merespon fakta sosial yang terus bergulir dengan tanpa memaksakan sesuatu yang memang sudah tidak bisa dijawab dengan referensi kitab kuning. Di sini, santri harus cerdas memberikan terobosan-terobosan up date sesuai prinsip-prinsip yang dicantumkan dalam kitab kuning.

Secara lebih tegas, dalam kancah pengembangan keilmuan, santri mempunyai tugas sebagai berikut. Pertama, santri menjaga komitmen untuk senantiasa mengamalkan ajaran Islam dari sumber-sumber yang kuat tanpa kontradiksi. Dalam menghadapi suatu masalah, santri menjawab berdasarkan perspektif sumber tertentu yang terkuatkan oleh sumber lain, tanpa ada kontradiksi. Kedua, santri mempunyai pandangan yang holistik tentang permasalahan-permasalahan. Koherensi pemikiran terhadap fakta sosial merupakan kecerdasan yang dimiliki santri. Masalah sosial bukan berarti lepas dari masalah teologi, juga tidak dapat dipisahkan dari wilayah moral. Dengan demikian, berbagai perspektif telah disiapksan santri. Tentu, ini melihat kebutuhan konteks. Ketiga, teori yang diterima dan dipelajari santri sejalan dengan prakteknya. Korespondesi ilmu dan amal merupakan suatu keharusan bagi seorang santri.

Melihat tantangan yang semakin runyam, tugas santri dalam wilayah sosial semakin terasa. Bekal-bekal yang diperoleh santri di pesantren dengan epistemologi di atas seharusnya dapat diaplikasikan secara nyata di masyarakat kelak. Semakin hari, masyarakat semakin gersang hingga memandang kebenaran dan kesalahan hampir mirip dan semakin kabur. Santri tidak boleh tinggal diam atas penyakit ini. Sensivitas yang tinggi merupakan modal spiritual guna cepat tanggap terhadap masalah sosial. Menilik perjuangan Kyai-kyai, santri tidak boleh mundur satu langkah pun. Merasakan permasalahan aktual, santri tidak boleh membisu tanpa respon sebagai suntikan yang mengobati. Membayangkan masa depan, santri tidak boleh pesimis. Bukanlah santri, apabila mati oleh terpaan angin patologis, bukanlah santri apabila tidak memandang cahaya pencerahan di masa mendatang. Wallahu a’lamu bi al-shawab.(red-Alw)

  1. R_N
    June 21, 2009 at 7:19 AM

    Santri,,Kitab kuning jadi makanan sehari-hari,
    masya Allah…keren bgd tuh. . .
    yah, . .itung-itung bwd bkal msa depan di masyarakat, . . .

  2. June 22, 2009 at 10:45 PM

    Postingannya bagus sobat,..

  3. June 23, 2009 at 1:25 AM

    pelajaran sesungguhnya adalah ketika terjun di masyarakat. karena itulah hidup yang sesungguhnya…

  4. abu
    June 23, 2009 at 4:07 PM

    wah memang keren, kitab kuning jadi makanan sehari-hari. Tapi, semoga saja TIDAK menjadikan kita bosan apa maneh boyong, ya kang. Amiiin.

  5. @l-@sy!q
    June 23, 2009 at 4:16 PM

    ya…dilakoni ae….
    walaupun makanan sehari2,ternyata kita klo disuruh baca p yai juga lum tentu bisa kan? so…..
    moga dapat barokahnya…
    amin
    kapan kita libur ngaji?
    dah kangen suasana liburan!!!!
    he..he…
    nek santri sing dipikir libur ae, kapan bisane?
    ya g?

  6. @klo
    June 25, 2009 at 2:21 PM

    ya lomenurutku bagaimana qt menjadi santri yamg bener
    ya gax….
    bnyak bca kitab tpi gx ber kelakuan baik sama ja boong
    so…../??sadar diri dulu ja jdi santri yang sebenarnya
    oke….?./
    kata abah juga ilmu itu ivarat air yang akan mengalir bila kita nlum siap di isi air itu akan tumpah dan akan bisa masuk…
    semngat untuk berubah jdi santri yang sebenarnuya ya…..

    Admin :
    Mari kita berubah menjadi yang lebih baik ..

  7. ivenxadytia
    July 17, 2009 at 6:15 PM

    wah… serujuga baca blog nya…
    success yah….


    Admin :
    Terimakasih atas kunjungannya
    Sukses juga

  8. Ary Siswanto
    August 3, 2009 at 7:00 PM

    undangan untuk seluruh santri, alumni, sms, simpatisan pp al-luqmaniyyah.
    bahwa pada hari selasa 11 agts 2009 ba’da isya panitia haflah akn mengadakan ziaroh walisongo meliputi wilayah jatim dan madura. info lebih lanjut dapat menghubungi panitia haflah sie ziaroh. tanks

    Admin :
    iya bener tuh pada ikutan ziaroh ..

  9. August 11, 2009 at 1:49 AM

    kere-keren santri2 di sini,banyak baca banyak ilmu,banyak ilmu juga di blog sobat ini,apalagi santri2nya”Kitab kuning menjadi makanan sehari-hari”wah wah top mar kotop

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: