Home > Opini Santri > Produktifitas Penghargaan dalam Pesantren

Produktifitas Penghargaan dalam Pesantren

September 7, 2009 Leave a comment Go to comments

sebuah penghargaanSeperti yang kita ketahui bahwasannya sebuah pesantren memiliki sumbangsih pendidikan moral maupun intelektal terhadap bangsa Indonesia, bahkan bisa dikatakan tanpa pesantren budaya timur di tanah pertiwi ini sudah lama hilang. Dalam perjalanannya pesantren turut berpartisipasi dalam kemerdekaan bangsa Indonesia, bahkan pancasila yang merupakan dasar negara itu merupakan kolaborasi antara adat dan istiadat ketimuran dengan hasil diskusi antar pesantren yang ada.

Santri yang menjadi tolak ukur berhasil atau tidaknya pendidikan pesantren ini kerap kali mewarnai masyarakat ketika sudah mukim atau pulang ke tempatnya masing-masing.

Dalam proses pembelajaran yang ditanamkan pertama kali dalam sebuah pesantren adalah bagaimana seorang santri itu dapat menghargai santri lainnya lebih-lebih terhadap kyai dan ustadz. Sebagai contoh seorang santri senior ketika memanggil santri yunior dengan panggilan “Kang” (mas) yang mana hal ini merupakan sebuah proses pembelajaran yang sangat mendasar. Selain kebutuhan sandang papan dan pangan masih ada kebutuhan yang harus dipenuhi yaitu kebutuhan akan penghormatan dan penghargaan dari orang lain. Bisa dibayangkan jikalau seseorang sudah tidak dibutuhkan atau sudah tidak ada lagi yang mau menghormati seseorang tersebut bahkan anaknya sendiri, niscaya takkan ada tempat lagi yang nyaman baginya. Dari sinilah pesantren mengharuskan produktifitas akan penghormatan dan penghargaan terhadap orang lain dari setiap individu yang ada guna menunjang kebutuhan tersebut.

Produktifitas akan penghargaan dan penghormatan terhadap orang lain dalam dunia pesantren dan dimanapun menjadi hal yang sangat penting, dan dalam proses pembelajaran akan produktifitas tersebut tidak ditemukan secara totalitas dalam pendidikan formal. Dan inilah yang menjadi nilai plus sebuah pesantren dibanding dengan pendidikan-pendidikan lainnya. (red-JS)

  1. September 11, 2009 at 5:03 PM

    benar bahwa sikap menghargai dan menghormati ‘kakak’ atau ‘orang tua’ itu harus dipupuk, namun saya sering mendengar bahwa ajaran untuk menghormati itu jadi seperti ‘mengkultuskan’ .. mengkultuskan seorang pimpinan..padahal pimpinan, orang tua atau kakak bukan berarti juga standar kebenaran kan..?

    pendapat saya betul ga mas..? tolong dijelaskan ya.. saya memiliki rencana untuk menyekolahkan anak2 saya dipesantren..saya masih mencari2 informasi mana yang paling baik dan sesuai kemampuan saya..

    makasi sdh berkunjung.. walaupun dgn komen iseng.. hehehe..

  2. September 12, 2009 at 7:52 PM

    pesantren memang kawasan pendidikan paling top menurut saya
    pesantren itu bengkel, yang jelek diperbaiki
    yg baik dibikin tambah baik


    Iya bener bengkel… kadang pak yoi turun tangan langsung yang sebenarnya sedang memperbaiki akan tetapi yang kita lihat itu adalah pekerjaan remeh.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: