Home > Akhbar/News, Opini Santri, Santai > Lebaran di Pesantren

Lebaran di Pesantren

Mudik lebaran[opini singkat] Mudik seakan menjadi pilihan wajib bagi para santri LQ setiap akhir ramadhan. Tiap selesai khataman pada tanggal 21 Ramadhan maka santri berbondong-bondong

sowan ndalem yai untuk pamit mudik ke rumah. Kontan saja pondok akan menjadi sunyi karena ditinggal pergi para santri. Suara jangkrik pun terdengar lebih nyaring tak seperti sebelumnya. Malam cepat sekali menjadi gelap, gelak tawa hilang dari bilik-bilik penuh lemari.

Benarkah mudik wajib ? Saya takkan menjawabnya di sini, karena kelihatannya hukum wajib akan dilanggar oleh para santri yang memilih tetap tinggal dan salat hari raya di masjid LQ, meski hanya berjumlah 3 sampai 5 baris saja. Biasanya, mereka yang tinggal maksimal hanya 5 % saja dari total santri. Slogan “Kembali ke Fitri” tak sepopuler “Kembali ke Rumah”.

Mereka yang pulang ke rumah beralasan karena memang momentum 1 Syawal adalah saat dimana keluarga berkumpul dan saling memaafkan satu sama lain. Jadi, mereka memang harus pulang, lagipula jadwal pondok memang libur sehingga sahih-lah alasan untuk tak berada di pondok.

Mereka yang bertahan di pondok dan baru pulang setelah siang atau sore hari 1 Syawal atau bahkan hari-hari berikutnya, mereka beralasan bahwa kalau bukan santri siapa lagi yang akan meramaikan pesantren. Siapa yang akan takbiran ? Siapa yang akan mempersiapkan shalat hari raya ? Siapa yang akan meladeni tamu yang datang ? Siapa yang akan menjaga pesantren di kala sepi ? dan alasan-alasan lainnya. Akan tetapi, dari itu semua, ada satu alasan yang muncul, yang menurut saya cukup menarik, yaitu bahwa seorang santri menghabiskan hidupnya di pesantren hampir lebih dari 90 % waktu dalam satu tahun. Di sana ia berinteraksi terutama dengan orang tua ruhani mereka, yaitu guru mereka. Setidaknya, apa salahnya mendahulukan bertemu dan sungkem dulu kepada sang kyai sebelum kembali bertemu dengan orang tua jasmani mereka. “Ah, apa ada yang beralasan seperti itu ? Apa benar niatannya ?”, demikian mungkin ada satu komentar yang muncul. “Mungkin karena ia tidak khatam Quran sehingga tak boleh pulang, atau karena memang terpaksa tidak bisa pulang karena diperintahkan untuk bertahan.

Hidup adalah pilihan. Pilih, mau pulang atau tidak ?

Daripada membicarakan masalah mudik, mungkin lebih bermanfaat jika membahas masalah slogan “Kembali ke Fitri”. Dari mana asal slogan ini ?

Seorang santri menjawab, “Slogan ini muncul kaitannya dengan hikmah bulan Ramadhan, selama kita berpuasa dan beribadah di bulan tersebut maka harapannya kita akan kembali lagi ke fitrah kita sebagai manusia yang tanpa dosa. Semoga kita menjadi orang yang kembali ke Fitri”

Oke lah, tapi jangan salah karena menerjemahkan Idul Fitri sebagai Kembali Ke Fitri. Id berarti hari raya, yaitu dimana kebahagiaan kembali datang pada hari itu. Sedangkan Fitri berarti tidak puasa. Jadi, Idul Fitri ialah hari raya tidak puasa, karena memang puasa diharamkan pada hari itu.

  1. kangkange
    September 28, 2009 at 10:39 PM

    salam, kang
    seakan jadi wajib
    dlam balagoh maksude apa lah?
    mlebune cabang endi, hem..
    amit lewat kang

  2. SRI
    October 16, 2009 at 3:45 PM

    MINAL AIDZIN WAL FA’IZIN AJA DECH KANG
    ya jg ya knpa kita gx pernah kepikiran akan hal itu,bahwa seharusnya yang kita sunkemin itu abah dulu…
    yang penting YUO MUST GO ON kang

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: