Home > Artikel > Riyadloh ala Pesantren Al Luqmaniyyah*

Riyadloh ala Pesantren Al Luqmaniyyah*

September 8, 2012 Leave a comment Go to comments

Oleh : Ustadz Izzun Nafroni, S.H.I

A.      Definisi

Riyadloh secara lughat: taman/kebun, makna lain: tamrin/latihan/tirakat, prihatin, kangelan, rekoso (jawa).

Riyadloh menurut istilah: upaya latihan diri dengan beberapa praktik/amalan tertentu untuk mencapai dan mendapatkan suatu kemuliyaan.

 B.    Perintah

  • Al-Qur’an al-Ankabut (29) : 69, yang artinya “Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridloan Kami, maka benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”.
  • Qaul sahabat Abu Ali ad-Daqqaq : Barang siapa yang menghiasi dhahirnya dengan mujahadah maka Allah akan membaguskan rahasia-rahasia hatinya dengan musyahadah.
  • Dalil ‘aqli/kata hikmah:Barang siapa yang menanam pasti akan mengetam, barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dapatlah ia.

C.     Macam-macam

a. Fisik

    • Khidmah :  – Pengasuh, Ustadz, Pengurus, sesama Santri

– Masyarakat sekitar

– Lingkungan

    • Syahrul layal / melek wengi
    • Lapar / luwe
    • Puasa: Daud, Senin kamis,  Soum Yaum al-Bidh. (al-waaridah)
    • Ngrowot (la budda  bil ijaazah)
    • Baca qur’an, mujahadah ba’da magrib dan qobla subuh

b. Akal

    • Muhafadloh / hafalan.
    • Muthola’ah / nderes (jawa).
    • Musyawarah / diskusi.

c. Hati

    • Wara’
    • Sabar
    • Zuhd
    • Tawadu’, dll.

 D.     Manfaat

–          Menjaga kesehatan jasmani maupun rohani.

–          Mencetak manusia yang cerdas dan berakhlakul karimah.

–          Menyadari bahwa hakekat manusia adalah makhluk yang do’if / lemah.

E.      Fenomena Riyadloh PP. Al-Luqmaniyyah

Salah satu ciri khas pondok pesantren salaf yang sampai saat ini terus dilestarikan adalah riyadloh / tirakat, termasuk Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah Yogyakarta (PPLQ). Setiap santri yang ingin mondok di PPLQ berkewajiban untuk memenuhi 2 syarat yang telah ditentukan. Syarat pertama : membayar administrasi / regestrasi (syarat formal oleh Pengurus). Syarat kedua: penentuan jenis riyadloh bagi masing-masing santri baru (syarat non formal oleh Pengasuh).

Syarat kedua inilah barangkali yang membedakan antara PP Al Luqmaniyyah dengan pondok yang lainnya terutama di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Pada umumnya di pondok-pondok pesantren, masalah riyadloh bagi seorang santri hukumnya hanya sekedar “anjuran” saja. Artinya ketika santri mau melakukakan riyadloh entah apapun itu jenis riyadlohnya, maka bagi santri tersebut mendapatkan nilai plus. Namun bilamana ada santri yang sama sekali tidak pernah melakukan riyadloh, juga tidak ada sanksi / hukuman baginya. Karakter / model seperti ini biasanya dimiliki oleh pesantren-pesantren modern. Justru karakter pondok seperti ini beranggapan santri yang sungguh-sungguh belajarnya walaupun tanpa riyadloh akan lebih baik hasilnya dibanding santri yang hanya murni riyadloh saja tanpa dibarengi usaha-usaha yang lain.

Bagaimana dengan Luqmaniyyah??

Tidak bisa dinafikan. Diakui maupun tidak, PPLQ lahir dan berkembang dari sosok seorang Kyai besar yang ahli riyadloh, ahli tirakat dan ahli ziaroh. Faktor ini disebabkan karena dulu beliau menimba ilmu pada seorang ulama’ besar yang ahli riyadloh yaitu kepada  Hadratussyaikh Mbah Kyai Chudlori PP Tegalrejo Magelang.

Menurut beliau riyadloh bagi santri “wajib” hukumnya. Beliau beranggapan bahwa dengan riyadloh dan belajar sungguh-sungguh mampu mencetak santri yang benar-benar cerdas, pandai dan berakhlakul karimah. Riyadloh merupakan bagian dari ikhtiar / usaha santri. Salah satu ciri khas riyadloh di PPLQ yaitu dengan tirakat “ngrowot”, yaitu tirakat puasa tidak makan nasi, ketan dan bahan-bahan yang terbuat dari beras dan ketan. Batas minimal adalah 3 tahun, dan tidak ada batas maksimalnya. Yang jelas semakin lama semakin baik.

Tetapi kenyataannya mayoritas  yang ngrowot di PPLQ, sedikit demi sedikit telah mengurangi nilai-nilai riyadloh itu sendiri. Memang benar santri tidak makan nasi, akan tetapi lauk ikan, telor, serta lauk-lauk yang tidak kalah enaknya. Ini renungan bagi kita semua!

Anggapan yang salah…..!!!

Sebagian santri membagi dan menganggap bahwa santri dibagi menjadi 2 karakter yang berbeda dan saling terpisah. Yang pertama santri yang berakal dan yang kedua santri yang ahli tirakat. Menurut pengamat penulis, santri yang berakal yang sungguh-sungguh dalam belajar saja, maka akan tercetak santri yang benar-benar cerdas, akan tetapi sombong dan tidak berakhlak. Begitu juga santri yang ahli tirakat saja, maka akan tercetak santri yang tawadhu’, akan tetapi bodoh, pengetahuannya dan kepandainnya kurang. Harapannya….Santri sekarang khususnya santri PPLQ, bersungguh-sungguh dalam belajar, tetapi juga ber-riyadloh-lah. Karena kita tidak akan tahu dan tidak bisa menjamin dari arah mana kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. WaAllahu ‘Alam…

* Disampaikan dalam forum MOSBA PP Al Luqmaniyyah pada 07 September 2012.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: