Home > Sastra Santri > CINTAILAH AKU KARENA ALLAH*

CINTAILAH AKU KARENA ALLAH*

Aku tak bisa begini terus, fikirku. Aku harus menerima kenyataan bahwa dia sudah tidak ingin berhubungan denganku lagi. Kenyataan pahit yang dialami memang sulit diterima dengan perasaan legowo. Diri ini rasanya menjadi enggan untuk menikmati dunia, enggan untuk melihat sinarnya matahari, bahkan menghirup nafas saja terasa sesak. “Hei bung sadar !!!” bentakku pada diriku sendiri. Ah….mengapa aku begitu lemah menghadapi wanita, benarkah aku begitu mencintainya? atau aku hanya menuruti hawa nafsuku saja?

* * *

Jarum jam terus berputar mengikuti alurnya, perlahan dan tiada henti. Membawa kegelapan beranjak pergi, memberikan hari baru untuk terus dinikmati, hingga pada puncaknya fajar mulai menyingsing memberikan sinar kehidupan.

Jujur saja, pagi ini terasa lebih berat untuk melangkah, seperti ada rantai yang mengikat kedua kaki. Ini mungkin hari terberat bagiku, hari yang tidak ingin aku alami tentunya. Tadi malam aku menerima sms dari pemilik belahan hatiku. Hani Purnama.

“Assalamu’alaikum Gus, maaf mengganggu malammu. Gus, aku tidak bisa seperti ini terus, merasakan kerinduan yang teramat dalam padamu. Aku ingin mengakhiri ini semua. Temui aku besok jam 09.00 di masjid kampus“.
 

Betapa kemudian kebingungan dan keresahan membuatku sulit untuk tertidur, bahkan untuk membayangkan sesuatu yang akan terjadi esok hari terasa begitu menakutkan dan menggangu pikiranku. Ingin mengakhiri semua? Apa maksudnya? Apa dia juga ingin mengakhiri hubungannya denganku? Bagaimana bisa orang yang mencintai kita ingin mengakhiri hubungan dengan kita.

* * *

08.00 WIB

Beranda masjid

“Neng Hani, bagaimana kabarmu hari ini? mengapa kulihat mendung di wajahmu?” tanya Zahra sahabat dekat Hani.

“Nduk, sebenarnya aku masih ragu dengan keputusanku, aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Ridho, aku tidak ingin mencintainya terlalu dalam. Aku sangat menderita bila harus merindukannya setiap malam. Bukankah aku punya kewajiban terhadap Robbku, aku tidak ingin menduakan-Nya”.  Zahra tersenyum mendengar kata-kata sahabat baiknya. Ada kebanggaan yang tiba-tiba tumbuh di hati Zahra. Zahra telah mengenal Hani sejak lama. Hani adalah teman sebangku zahra sejak di kelas satu Aliyah, mereka selalu ada untuk satu sama lain. Zahra selalu siap mendengar keluh kesah Hani, dan begitupun sebaliknya. Zahra pun sebenarnya tak begitu setuju bila Hani menjalin hubungan lebih dengan lawan jenis, akan tetapi  dia tidak enak hati untuk melarangnya. Dia begitu bersyukur karena sahabatnya cepat mengambil keputusan ini.

“Nduk, tolong temui Ridho dan berikan surat ini padanya. Aku takut air mataku akan menetes lagi jika aku memandangnya.” Zahra mengangguk kemudian memeluk sahabat baiknya.

* * *

Aku berjalan bergegas menuju beranda masjid, membawa asa dan banyak pertanyaan yang menggangguku semalaman. Perlahan aku mulai memasuki masjid tempat Hani mengajakku bertemu. Lama mencari sosoknya tapi hasil nihil yang kudapatkan.

“Gus Ridho…,” suara orang setengah berteriak memanggilku. Ternyata Zahra, sahabat baik Hani. Dimana Hani ? mengapa justru Zahra yang disini, batinku.

“Afwan Gus, ini saya ada titipan dari Hani, dia meminta maaf karena tidak bisa menemuimu secara langsung”. Zahra memberiku sepucuk surat dan kemudian langsung berpamitan. Aku bergegas mencari tempat yang nyaman untuk membuka.

Assalamualaikum Wr.Wb.
Semoga Tuhan yang Maha memiliki cinta dan hati selalu melindungi Gus Ridho dengan kasih-Nya.
 
Gus, kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku memutuskan untuk tidak lagi berhubungan denganmu, dan pasti begitu kecewa karena aku tidak menemui secara langsung. Biar aku jelaskan padamu. Sungguh, betapa aku sangat mencintaimu, selalu menantikan dering pesan dan panggilan darimu di ponselku, merindukanmu setiap malam bahkan ingin selalu bersamamu. Bukan karena aku sudah tidak peduli lagi padamu sehingga aku memutuskan untuk pergi darimu. Bukan karena aku tidak ingin hidup bersamamu sehingga aku ingin melupakanmu.
 
Gus, aku sadar, aku memang mencintaimu tetapi aku lebih mencintai-Nya. Aku memang merindukanmu tetapi aku lebih ingin merindukan-Nya. Aku memang ingin bersamamu tetapi aku lebih ingin selalu bersama-Nya.
 
Gus Ridho, rasaku terlalu besar padamu dan aku tahu itu sangat tidak baik untuk kita. Bukankah ada Dzat yang lebih pantas kita cintai?, lebih pantas untuk kita rindui dan kita kasihi sepenuhnya. Dia Gus….Dia lebih pantas kita cintai dari pada apapun bukan?
Gus, agama kita tidak mengajarkan untuk berhubungan dengan lawan jenis yang bukan mahram, bukankah kamu paham hal itu? Bukankah dengan kita berhubungan justru akan menambah tabungan dosa. Gus, ada dua cara terbaik saat kita jatuh cinta, yang pertama datangi orang tua dan lamarlah, kemudian yang kedua hilangkan rasa itu jika cara yang pertama belum sanggup dilakukan. Dan kamu tahu bukan cara mana yang aku pilih. Percayalah jika kita berlomba untuk memperbaiki, kita akan disatukan olehnya. Jika kamu merasa kebahagiaan kita saat pacaran sebagai nikmat,maka bersegeralah beristighfar. Aku hanya terlambat menyadarinya, Gus. Dari hubungan yang belum sah kebahagiaan yang kita dapat bukanlah menambah pahala melainkan sebaliknya. Mari kita saling mengendalikan diri kita. Cintailah aku karena Allah.
 
Semoga Allah selalu mengasihimu.
 
Hani Purnama
 
Wassalamualaikum wr.wb
 
 
 

*Cerpen oleh Wahyu Saefudin, santri putra PP. Al-Luqmaniyyah

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: