Home > Sastra Santri > MATAHARIKU

MATAHARIKU

December 18, 2012 Leave a comment Go to comments

Awan hitam berangsur-angsur menutupi cakrawala. Rindang pepohonan menari terbawa angin. Deru kendaraan melintas tiada henti, mengepulkan asap demi asap pembawa penyakit yang semena-mena terbang memperparah sang ozon. Di belakang berdiri megah istana kepresidenan. Aku duduk di atas becakku, merebahkan badan yang mulai rapuh termakan usia. Mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaga sambil kuusap peluh yang serta merta membasahi pipiku. Aku memandang muda-mudi dengan khusyuk. Mereka berada tak jauh dari tempatku berada sekarang. Aku merasa begitu sedih saat tiba-tiba si pemuda membuang makanan yang berada ditangannya. “Ah ga enak.” ucapnya.

Lapar menusuk setiap ruang kosong di perutku, asam lambung yang belum bekerja kembali protes sehingga perut terasa perih. Baru kuingat, semenjak subuh tadi, setelah ku selesaikan kewajiban dan kukayuh pedal becak melintasi setiap jengkal tanah menuju tempat biasa menggantungkkan nasib, aku belum memasukan seteguk air putih pun ke dalam mulut.

Kurogohkan tanganku ke dalam saku celana, Alhamdulillah, dua lembar uang kertas bergambar Tuanku Imam Bonjol telah kudapatkan hari ini. Itu lebih baik dari kemarin saat hanya selembar uang dengan gambar yang sama kudapatkan. Telah lebih dari satu jam matahari lengser dari posisi puncaknya, sesaat pikiran untuk mengisi perut muncul, tapi kembali kubuang jauh-jauh. Kasihan anak-anakku mungkin mereka juga belum makan. Pikirku. Aku sudah terbiasa sejak kecil untuk hidup susah, tapi anakku, jangan sampai kau mengalami hal yang sama dengan bapakmu ini, aku kembali berbicara pada diriku.

Segerombolan pengunjung penikmat Benteng Vredeburg menuju ke arahku. Tampaknya benteng peninggalan Belanda ini masih banyak dinikmati sebagai tujuan wisata. Hal ini memberikan sebongkah  harapan bagiku. Aku berdiri menyongsong mereka, menawarkan jasa becak dengan penuh harap agar anak-anakku nanti malam bisa tidur nyenyak. Maaf pak, jawaban mereka yang lembut memudarkan harapan yang tadi sempat tumbuh. Kembali kulangkahkan kaki, menuju becak yang senantiasa setia menemaniku. Kembali merebahkan badan ini.

Hujan perlahan turun membasahi setiap jengkal apa yang ada di bawahnya. Aku bergegas menggiring becakku berteduh. Pedagang asongan dan semua yang menggelar dagangan bergegas membereskan dagangan mereka, saling berebut jalan untuk berteduh. Ah lagi-lagi hujan, mana dagangan belum ada yang laku. Suara-suara keputusasaan dan kekecewaan terlontar dari pria di sebelah. Aku terdiam. Ya Allah jadikan aku dan keluarga sebagai orang yang selalu bersyukur atas nikmat yang telah Engkau berikan. Ucapku dalam hati.

Waktu berlalu secepat hembusan nafas yang keluar dari hidung. Gumpalan-gumpalan awan pembawa hujan ikut berlalu mengikuti kemana angin menuntunnya. Tiba-tiba sepasang pengemis buta tua datang menghampiriku, dialah pak Darmin dan bu Darmin. Aku biasa memanggilnya pak Min dan bu Min.

“Sudah Sholat mas Somad?” tanya pak Min padaku.

“Belum pak Min. Pak Min sendiri, sudah atau belum? Mari sekalian?”

“Alhamdulillah, saya sudah mas Somad.” Deg, pukulan keras mengenai hatiku. Aku merasa malu pada diriku. Bergegas aku menuju sebuah surau setelah berpamitan pada pak Min.

***

Hujan perlahan mulai reda, matahari juga perlahan mulai tenggelam. Kembali kukayuh pedal becakku. Kali ini aku memacunya kembali ke rumah, rintik hujan yang masih turun menemaniku sepanjang perjalanan.

“Assalamu’alaikum,” ucapku sambil mengetuk pintu.

“Wa’alaikumsalam,” jawab istriku sambil membuka pintu.

“Mana anak-anak bu?” tanyaku.

“Mereka sudah siap di meja makan pak, menunggu bapak untuk buka puasa bersama,” jawab istriku kemudian. Tubuhku bergemuruh mendengarnya, rasa haru, bangga bercampur jadi satu. Kemudian kuberikan dua lembaran kertas yang kudapat tadi. Ada rasa malu saat menyerahkannya. Apakah aku ini suami yang bertanggung jawab? Apakah aku ini seorang bapak yang bertanggung jawab? Tanyaku pada diriku sendiri.

“Alhamdulillah ya pak, kita masih bisa makan hari ini dan apa yang bapak dapat lebih banyak dari kemarin.” jawabnya.

Udara malam menyisir setiap jengkal tanah pedesaan. Merangsek memasuki bilik-bilik rumah yang terbuat dari bambu. Sunyi menghampiri wajah-wajah lugu anakku. Aku masih bergelut dengan batinku, masih dengan pertanyaan yang sama. Suami yang bertanggungjawabkah aku? Mungkin kegalauan tampak jelas dalam raut kelelahanku, sehingga istriku menghampiri.

“Bapak kenapa to, pak?” tanya istriku, sambil membawa secangkir kopi panas yang serta merta disuguhkannya padaku. Aku hanya menatapnya kosong, melihat ketulusan yang terpancar darinya.

“Bu…” istriku tampak antusias menanti lanjutan kata-kata yang hendak keluar dari mulutku. “Apa bapak sudah amanah terhadap perintah gusti Allah, menjadi pemimpin keluarga?” istriku diam. Mungkin sedang menata kata-kata yang hendak dia keluarkan. “Bapak merasa tidak dapat memberikan kebahagiaan kepada ibu dan anak-anak. Bapak tidak bisa membelikan baju saat lebaran tiba, bapak tidak bisa memberikan sepatu baru saat anak kita naik kelas. Apa bapak ini bertanggung jawab, bu?”

“Pak, ibu tidak pernah menganggap bahwa bapak tidak bertanggung jawab. Justru sebaliknya. Bapak mengajarkan anak-anak membaca Al quran, bapak membangunkan ibu setiap tahajud tiba, bapak mengajak anak-anak untuk sholat shubuh berjamaah. Itu sudah membuat ibu bahagia pak. Ibu tak pernah mengukur kebahagiaan ibu dan anak-anak dari jumlah uang yang bapak berikan setiap hari. Sungguh pak, ibu tak seperti itu. Kesabaran bapak, membuat ibu merasa nyaman berada disamping bapak. Tanggung jawab tak pernah ibu pandang dari materi pak. Cara bapak memperlakukan ibu, cara bapak mendidik anak, itu adalah tanggung jawab yang mungkin tidak akan ibu dapatkan apabila menikah dengan pria lain. Ibu tak pernah mendengar anak-anak kita mengeluh hanya karena tidak mempunyai baju baru saat lebaran tiba, ibu tak pernah melihat anak kita tidak berangkat sekolah hanya karena sepatu yang sudah usang. Bapak adalah pria sempurna di mata ibu, bapak selalu memberikan jawaban yang memuaskan tentang ilmu-ilmu agama yang sebelumnya ibu tidak mengetahuinya, ibu sangat bersyukur bisa memiliki seorang suami seperti bapak. Karena, mungkin tidak ada orang lain yang dapat melakukan tugas mulia ini seperti yang bapak lakukan.” Jawabannya merontokkan butir-butir keraguanku, jawabannya sangat menenangkan jiwaku yang begitu gelisah di tengah ketakutan. Dialah air yang menyejukanku saat panas menyerang, dialah api yang memantik semangatku hingga berkobar saat keputusasaan mulai bergelayut.

Malam mulai larut hingga tak menyisakan satu pun bunyi yang biasanya menghiasi. Sinar bulan tampak dari celah-celah atap rumahku, menyejukan mata kepada siapa saja yang memandangnya. Kudekap tubuh istriku yang kedinginan, kujadikan tubuhku sebagai selimutnya. Kupandangi langit sejenak lewat jendela kamarku. “Terima kasih Ya Robb, Engkau telah sudi mengirim bidadari menjadi kekasih hidupku,” ucapku dalam hati. Dia matahari dalam kehidupanku.

*Cerpen oleh Wahyu Saefudin, santri putra PP. Al-Luqmaniyyah

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: