Home > Artikel > Mengenal Rasul melalui Karya Sastra*

Mengenal Rasul melalui Karya Sastra*

Matahari pagi tertanggal 4 Januari 2014/ 2 Robiul Awal 1435 H disambut gema shalawat bertalu-talu yang tercipta di Aula dan Masjid Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah. Gema shalawat ini akan terus menggema setiap paginya hingga pada 14 Januari 2014/ 12 Robiul Awal 1435 H sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Kami bertempat terpisah, santri putri bershalawat di Aula sedang santri putra bershalawat di Masjid.

Genderang serta gemerincing alat tabuh dipukul dengan irama yang sesuai menjadi alunan musik tradisional yang apik sebagai pengiring kami yang melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Kitab Simthu ad Duror karangan Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi, kitab Diba’ karangan Al-Imam Al-Jalil Abdurrahman Ad-Diba’iy, dan kitab sholawa lainnya menjadi rujukan kami bershalawat. Kami khidmat bershalawat atas Nabi Muhammad Saw. menyentuh pada kalbu, menerka dan meraba rasa rindu kepada penuntun jalan kehidupan kami, yaitu utusan Allah Swt. dialah Nabi Muhammad Saw.

***

Rasa Bersejarah Atas Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad Saw. telah bersabda dalam HR. At-Tirmidzi :

اَوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَكْثَرُهُمْ عَليَّ صَلاَةً

Orang yang terdekat kepadaku pada hari kiamat, ialah orang yang banyak membaca shalawat untukku”.

Shalawat merupakan isim masdar yang fi’il madhi-nya berupa صَلىَّ merupakan asal kata dari صَلَّوَ berarti berdoa, bershalat, bersembahyang dan semoga Allah memberikan berkah dan rahmat kepada Nabi Muhammad Saw. (Munawwir : 1997). Ungkapan kata doa, limpahan rahmat dan keselamatan yang sempurna kepada Nabi Muhammad Saw. diapresiasikan oleh para pujangga dalam susunan bait puisi atau syi’ir-syi’ir yang berisi kisah kelahiran, sirah, hikmah dan kehidupan Nabi Muhammad Saw. Hingga pembaca sekaligus penikmat sastra akan menyelami makna yang terkandung di dalam karya sastra tersebut. Semisal contoh seperti syi’ir yang dikutip dalam kitab Simthu Ad Duror :

يَالَقَلْبٍ سُرُوْرُ هُ قَدْتَوَالىَ

بِحَبِيْبِ عَمَّ الاَ نَامَ نَوَالَ

جَلَّ مَنْ شَرَّفَ الْوُجُوْدَ بِنُوْرٍ

غَمَرَالْكَوْنَ بَهْجَةً وَجَا لاً

Artinya:

“Bahagia dan sukaria berdatangan merasuki kalbu

Menyambut datangnya kekasih Allah, pembawa anugerah bagi seluruh manusia

Maha Agung Dia yang telah memuliakan wujud ini dengan nur berkilauan

Meliputi semuanya dengan keriangan dan kecantikan”

Apresiasi sastra dalam bait di atas menunjukkan rasa gembira dan haru akan kehadiran Nabi Muhammad Saw. Rasa sukacita karena telah hadirnya penerang jalan manusia yang masih sering mempertanyakan akan dirinya: “Hendak ke mana aku menuju?” Maka, Nabi Saw. datang memberikan petunjuk bagaimana seharusnya manusia itu berjalan dan apa yang hendak dituju, baik di dunia maupun di akhirat. Betapa bahagianya manusia sesungguhnya, karena mendapatkan ketenangan jiwanya.

Bait-bait syi’ir di atas mewakili rasa terharu dan kegembiraan penulisnya, yang digali dari rasa kenal dan dekatnya penulis syi’ir ini dengan Nabi Muhammad Saw. Hal ini merupakan akibat dari penulis syi’ir yang telah menyelami rasa bersejarah yaitu dengan cara memahami perjalanan hidup Nabi Saw, kisah-kisah perjuangan menegakkan agama Islam serta keteladanan yang terwujud dari pribadi Nabi Saw.

Nilai-nilai sejarah dihidupkan kembali. Rasa bersejarah itu akan menjadi ghiroh/semangat yang muncul dari hati nurani atau panggilan jiwa untuk melanjutkan sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw. Maka teringat akan ujar Hamka, bahwa sejarah perjuangan mengajak jiwa untuk membangun rasa “Seakan-akan saya berada di tengah-tengah mereka atau seakan-akan mereka berada di tengah-tengah saya”. Sehingga tak jarang ditemui orang-orang yang bershalawat atas Nabi Muhammad Saw. menjadi menangis dan terharu karena membayangkan adanya sosok Nabi Muhammad Saw. hadir dan dekat menghampiri mereka.

Apresiasi Puisi Untuk Meningkatkan Religiusitas

Seorang satrawan Indonesia bernama Sutan Takdir Alisyahbana menyebut sastra yang bermuatan religi karena menyelami perasaan beragama. Melalui sebuah puisi kesadaran religiusitas dapat tersentuh. Kesadaran religiusitas itu bisa berupa kecintaan dan ketakwaan pada Tuhan, kesadaran akan kebesaran Tuhan, kesadaran akan takdir, kecintaan pada nabi dan rosul, kesadaran bahwa hidup tak pernah abadi, dan masih banyak lagi (Tjahjono Widarmanto : 2013). Berangkat dari “kesadaran manusia” itulah rasa beragama manusia akan tersemai dengan baik. Pendekatan apresiasi sastra merupakan pendekatan yang dapat digunakan untuk membentuk nilai-nilai luhur, kepekaan rasa, daya fikir dan penanaman akhlak Islam.

Simak puisi D. Zawawi Imron yang menuliskan tentang kecintaannya pada Rasulullah. Puisi ini berjudul Surat Untuk Rasulullah :/wahai kekasih,//dari sudut ufuk yang tak ku kenal/senyum agungmu menebarkan pesona//pada debu-debu//yang mengepul dari derap kakimu/ada sebutir zamrud hijau/terbang menghinggapi hatiku//wahai, kekasih Allah,/rahmat dan sejahtera semoga untukmu/dan selalu untukmu//aku minta/sudilah engkau menjumpaiku nanti/yang mungkin terengah-engah/dalam jilatan lidah api neraka/dan izinkan aku berteduh/di bawah naungan jubahmu/yang hijau kebiruan itu/meski jejak-jejakku penuh dengan bercak darah/wahai kekasih/apakah salah aku merindukan/sebuah negeri yang indah?/.

***

Ternyata kami hidup tak lepas dari sebuah sastra Arab dan sastra Indonesia yang ditulis dalam bentuk bait-bait syi’ir yang indah. Termaktub di dalamnya puisi bernafaskan religi agar kami semakin mengenal rasa akan cinta kepada Allah Swt dan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. tinggal bagaimana kami mengapresiasi sastra dengan membacanya, menghayati maknanya dan mengambil nilai-nilai luhur di dalamnya. Dan tiada salahnya pula jika kami pun akan mencoba menuliskan bait-bait puisi karangan sendiri sebagai wujud rasa kecintaan kami kepada Nabi Muhammad Saw.

Salam Sastra, Salam Bahasa!

*Oleh Pelangi Lutfiana

Penulis adalah santri putri kelas Alfiyyah 1, Kamar Diwan.

Terinspirasi dari : Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi, Ahmad Warson Munawwir, HAMKA, D. Zawawi Imron, Sutan Takdir Alisyahbana, Tjahjono Widarmanto.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: