Home > Artikel, Syariah, Tasawuf > Ma`rifatullah Sebagai Puncak Prestasi*

Ma`rifatullah Sebagai Puncak Prestasi*

Ma’rifatullah adalah mengetahui akan Allah SWT. Bila manusia mengenal akan sesamanya  berawal dari mengetahui namanya saja, Kemudian Lambat laun mulai akrab, sampai pada hubungan persahabatan yang saling mengenal karakter dan sifat satu sama lain. Sampai akhirnya benar-benar kenal lebih dari sahabat seperti mengenal akan dirinya sendiri. Hal ini berarti dalam mengenal Allah pun sejatinya seperti itu. Berawal dari percaya sampai akhirnya benar-benar merasakan bahwasanya Allah selalu bersamanya. Tidak ada sesuatu yang dinomersatukan kecuali Allah.

ma'rifatullah

Secara fitrah, manusia memiliki kebutuhan standar. Dalam salah satu kitab karangan Imam Al-Ghazali, beliau mengatakan bahwa manusia memiliki kecenderunagn untuk mencintai dirinya, mencintai kesempurnaannya, serta mencintai eksistensinya. Dan sebaliknya, manusia cenderung memberi hal-hal yang dapat menghancurkan, meniadakan, mengurangi atau menghancurkankesempurnaan itu.Orang besar terkenal banyak dipuji-puji, memiliki pengaruh dan kekayaan yang melimpah, pengikutnya beribu-ribu, akan takut setengah mati jika takdir mendadak merubahnya menjadi miskin, lemah, bangkrut, terasing atau ditinggalkan manusia.

Begitulah manusia. Kecintaan kita kepada ciptaan Allah sampai begitu banyak, padahal cinta itu pasti akan musnah. Seharusnya dengan pemenuhan semua kebutuhan hidup didunia ini, menjadikan kita semakin sadar  pada satu-satunya dzat pencipta, yaitu Allah SWT.Jadi, kebutuhan pada diri kita itu seharusnya menjadi jalan supaya kita mencintai Allah.

Harus kita pahami bahwa cinta yang hakiki adalah bentuk kecintaan kepada Allah, bukan kepada sesama makhluk ciptaan-Nya. Kebanyakan  orang kurang sadar akan hal ini. Bagi seorang muslim ma’rifatullah adalah bekal untuk meraih prestasi hidup setinggi-tingginya. Ma’rifatullah adalah pengarah yang akan meluruskan orientasi hidup seorang muslim. Dengan pemenuhan kebutuhan duniawi seharusnya menjadikan manusia sadar bagaimana pemurahnya Allah SWT.  yang akan membuat kita lebih sadar dan selalu berusaha mencintai Allah, namun jalan itu tidaklah mudah. Sering kita jumpai latihan-latihan ma’rifat melalui training atau pelatihan, sebenarnya prosesnya tidak sesederhana itu. Ma’rifat itu bagian dari rahasia Allah. Kema’rifatan tidak tergantung ibadah dan ketekunan si hamba.Belum tentu yang tekun diberi kema’rifatan, kema’rifatan itu murni fadlol dan irodah Allah tanpa tergantung oleh ikhtiar hamba-Nya. Hamba hanya punya hak berusaha dan berdoa agar diberi cinta dan ma’rifat-Nya. Begitu juga orang yang punya keistimewaan dan kehebatan diluar nalar akal belum tentu ia ma’rifat. Sebaliknya orang yang ma’rifat tanpa sedikitpun terlihat keistimewaanya. Maka berbahagialah orang yang senantiasa berusaha mengenal Allah, sehingga kedekatannyadengan Allah senantiasa dipisah oleh tabir yang semakin tipis. Bagi orang yang dekat dengan Allah, dia akan dianugrahi ru’yah shadiqah (penglihatan hati yang benar).

*Oleh: Rahayu

(Penulis adalah pemenang lomba menulis rubrik artikel Bulletin An-Najwa

Ponpes Al-Luqmaniyyah Yogyakarta)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: