Home > Artikel, Wejangan Kyai > NASEHAT IMAM AL-GHAZALI KEPADA PENCARI ILMU*

NASEHAT IMAM AL-GHAZALI KEPADA PENCARI ILMU*

Santri PPLQ

Santri PPLQ

Ilmu adalah sesuatu yang mulia baik di hadapan Allah SWT. ataupun di hadapan manusia. Setiap orang dituntut untuk mencari ilmu sebagai bekal hidupnya, karena hanya dengan ilmu seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Imam Al-Ghazali sebagai seorang ulama besar memiliki perhatian yang serius terhadap orang-orang yang mencari ilmu. Beliau punya harapan besar agar orang yang mencari ilmu tidak tersesat serta keliru dalam belajar serta adanya kemanfaatan yang bisa diraih dari ilmunya. Berkaitan dengan hal ini beliau memberikan beberapa nasehat kepada para pencari ilmu agar dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat. Nasehat tersebut beliau tuangkan dalam kitabnya yang berjudul Ayyuhal Walad. Kitab ini merupakan kitab yang ringkas, namun sarat akan makna. Kitab ini dikarang oleh Imam Al-Ghazali sebagai bentuk jawaban atas kegelisahan salah seorang muridnya yang telah sekian lama mempelajari berbagai macam ilmu dari dirinya, namun muridnya tersebut masih membutuhkan arahan dari beliau tentang kemanfaatan ilmu yang ingin didapatkan. Kitab ini dikenal juga dengan nama Ar-Risalaah al-Waladiyyah yang aslinya ditulis oleh Imam Al-Ghazali dalam bahasa Persia dan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa oleh sebagian ulama.

Diantara nasehat Imam Al-Ghazali kepada muridnya adalah:
1. Seorang pencari ilmu harus selalu mengisi waktu dengan belajar dan beribadah kepada Allah swt.
2. Seorang pencari ilmu harus selalu mengamalkan ilmu yang diperoleh baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain agar ilmu yang didapatkan bisa bermanfaat dan mendapatkan pahala dari Allah swt.
3. Seorang pencari ilmu harus selalu beribadah berdasarkan ilmunya agar ibadah yang dilakukan bisa diterima oleh Allah swt.
4. Seorang pencari ilmu harus memperbanyak bangun di tengah malam untuk belajar dan sholat Tahajud serta ibadah yang lainnya.
5. Setiap ucapan dan tindakan pencari ilmu harus sesuai dengan ketentuan syari’at, karena setiap ilmu dan amal yang tidak didasarkan kepada syariat hanya akan menghantarkan seseorang kepada kesesatan.

Selanjutnya Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa bagi setiap orang yang menempuh jalan ibadah kepada Allah wajib menjalankan empat perkara berikut ini:
1. Memiliki keyakinan yang benar dan tidak tercampuri dengan unsur bid’ah (amalan ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan bertentangan dengan syari’at).
2. Melakukan taubat Nasuha dengan sebenar-benarnya dan tidak mengulangi kembali dosa serupa yang pernah dilakukannya.
3. Mencari kerido’an atau meminta maaf kepada musuh sehingga tidak ada hak musuh yang tertinggal pada diri kita.
4. Mempelajari ilmu syari’at yang bisa digunakan untuk menjalankan perintah Allah swt serta ilmu-ilmu lainya yang bisa menyelamatkan diri kita.

Selanjutnya beliau juga mengatakan bahwa bagi seseorang yang sedang menempuh jalan ibadah kepada Allah harus memiliki seorang guru yang akan membimbing dan mendidiknya dengan akhlak dan budi pekerti yang luhur. Oleh karena itu guru yang dia pilih haruslah seorang guru yang meneladani perilaku Rasulullah dan memiliki tingkatan Riyadloh an-nafsi yang tinggi yaitu tidak berlebih-lebihan dalam hal makan, berbicara dan tidur serta selalu memperbanyak ibadah sholat sunnah, shodaqoh dan puasa sunnah.
Disamping itu, Imam Al-Ghazali juga mengatakan bahwa seorang murid harus memiliki adab ataupun etika yang luhur kepada gurunya dengan senantiasa memuliakan dan menghormati gurunya secara dzohir dan batin. Penghormatan secara dzohir seorang murid terhadap gurunya diantaranya adalah tidak menentang atau memprotes guru secara berlebihan ketika guru menjawab pertanyaan yang diajukan oleh murid dan murid harus selalu menjalankan perintah guru yang baik secara maksimal sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan penghormatan secara batin adalah adanya kesesuaian antara kondisi dzohir dan batin seorang murid ketika menjalankan perintah dan nasehat gurunya.
Pada bagian akhir pembahasan kitab ini, Imam Al-Ghazali memberikan 8 nasehat kepada pencari ilmu, yaitu:
1. Tidak mengajak orang lain untuk mendiskusikan persoalan yang sudah dimengerti dan dipahami dengan baik, karena hal ini akan menimbulkan bahaya yang besar dan bisa menimbulkan unsur riya, dengki, sombong dan permusuhan.
2. Hendaknya seorang pencari ilmu tidak menasehati dan mengingatkan orang lain sebelum dia sendiri bisa melakukannya, karena hal ini bisa menimbulkan bahaya yang besar.
3. Hendaknya seorang pencari ilmu tidak terlalu sering bergaul dengan para pemimpin ataupun penguasa.
4. Hendaknya seorang pencari ilmu tidak menerima pemberian ataupun hadiah dari para penguasa meskipun diketahui kehalalannya, karena hal ini akan menimbulkan sikap toma’ ( berharap secara berlebihan).
5. Seorang pencari ilmu harus selalu berinterkasi dengan Allah (beribadah) secara baik dan benar serta dengan cara-cara yang bisa mendapatkan ridlo Allah.
6. Memperlakukan orang lain dengan baik seperti halnya dia memperlakukan dirinya sendiri.
7. Seorang pencari ilmu harus banyak membaca ilmu yang bisa memperbaiki hati dan mensucikan jiwanya.
8. Seorang pencari ilmu tidak mengumpulkan harta dunia melebihi kadar kecukupan hidupnya selama setahun.

*Oleh: Ustadz Abbas

  1. February 14, 2014 at 4:44 PM

    Belajar… belajar… dan terus belajar… menjadi pencari ilmu seumur hidup…

  2. ucup
    July 3, 2014 at 2:24 PM

    gaboleh bawa hape ya mondoknya😀

  3. Muhammad Fazri Rivai
    July 4, 2015 at 8:17 AM

    ane izin copy ininya ke word buat ditulis…. makasih yah… semoga dibalas Allah kebaikanya

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: